RAJIN DI DALAM TA’AT - II
Umar bin Al-Khothob r.a. berkata: “Adakan perhitungan untuk dirimu, sebelum
kami diperhitungkan (diminta perhitungan), karena yang demikian itu lebih
mudah dan ringan bagi hisabmu, dan pertimbangan dirimu sebelum kamu
ditimbang semua amal perbuatanmu, dan bersiap siaplah untuk berhadapan
kepada Allah yang Maha Besar : Yauma idzin tu’rodhuna laa takhfa minkum
khofiyah. (Pada saat itu kamu dihadapkan, dan tidak ada sesuatu yang
tersembunyi dari padamu, walau sesamar samarnya.)” (Al-Haaqqoh 18).
Yahya bin Mu’aadz berkata: Manusia ada tiga macam:
1. Orang yang sibuk akherat sehingga melalaikan dunianya.
2. Orang yang sibuk dunia sehingga melalaikan akheratnya
3. Orang yang sibuk dengan dunia dan akherat.
Yang pertama: derajat orang orang yang untung dan ahli ibadat, yang kedua:
Tempat orang orang yang binasa. Yang ketiga: derajat orang yang spekulasi
(untung untungan).
Hatim Azzahid berkata: Empat macam, tidak dimengerti nilainya
kecuali oleh empat. Nilai muda tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah
tua. Nilai kesehatan tidak diketahui kecuali oleh orang yang sakit. Nilai
sejahtera (keselamatan) tidak diketahui kecuali oleh orang yang terkena
bala’. Nilai hidup tidak diketahui kecuali oleh orang yang sudah mati.
Abul Laits berkata: Ini terambil dari sabda Nabi SAW:
“Pergunakan kesempatan yang lima sebelum tibanya yang lima, mudamu sebelum
tua, dan sehatmu sebelum sakit, dan kayamu sebelum miskin, dan masa luang
sebelum sibuk, dan masa hidup sebelum mati.”
Maka seharusnya seseorang mengerti nilai hidupnya dan mempergunakan tiap
saat yang tiba padanya, dan menanya bagaimana keadaanku di lain saat, lalu
memikirkan kemenyesalan orang orang yang telah mati, mereka ingin kembali
hidup sekedar untuk sembahyang dua raka’at, atau sekedar membaca Laa ilaaha
illallaah. Dan kini kamu sedang mencapai itu, maka rajin rajinlah dalam
ibadat sebelum tiba masa kemenyesalan.
Hatim ketika ditanya: Atas dasar apa kamu beramal ? Jawab: atas empat:
1. Saya mengetahui bahwa rezekiku tidak akan lari kepada orang lain,
sebagaimana rezeki orang lain tidak akan lari padaku, maka aku yakin dengan
itu.
2. Saya mengetahui bahwa saya menanggung kewajiban yang tidak dapat
dikerjakan oleh orang lain, maka aku sibuk mengerjakannya.
3. Saya mengetahui bahwa Allah melihat kepadaku di mana aku berada,
maka aku malu dari pada-Nya.
4. Saya mengetahui bahwa ajalku akan tiba padaku, secara mendadak, maka
saya dahului dengan amal sebelum ia tiba.
Abul Laits berkata: Mengejar ajal berarti bersiap siap dengan amal sholeh,
dan menjauhi dari larangan larangan Allah untuk menguatkan dan mencapai
khusnul khotimah pada akhir hidupnya.

# Comment by Akang — October 5, 2005 @ 9:39 pm
Kadang dikala aku sendiri .. pengen banget bisa menjadi orang yang “sedikit” mulia dimata Allah SWT, mungkin otakku dah terlalu banyak dijejali oleh setan yang terkadang aku lupa apa yang telah aku lakukan bahkan pada orang yang paling aku sayangi … mama, maafin aku ya …
# Comment by ama — October 7, 2005 @ 4:14 pm
Setan itu hilang dengan sholat mas.tingkatkan sholatnya yah, n belajar mengendalikan nafsu dan emosi,aku pasti dukung kok
# Comment by arif budhiarto — December 22, 2008 @ 10:59 pm
pa kabar???lama tak jumpa??taj sengaja kutemukan tulisanmu
# Comment by arif budhiarto — December 22, 2008 @ 11:00 pm
ini emailku
arif_budhiarto@yahoo.com
kirim email balik yoo